WELCOME TO MY BLOG


I made this widget at MyFlashFetish.com.

Senin, 14 Januari 2013

contoh makalah ilmu pendidikan


AL-MASYĪAĤ
(Refleksi Nilai-Nilai Paedagogis Al-Masyîaĥ)
A.  Pendahuluan
Apabila orang-orang beriman memuji dan menghormati rasulullah Saw, maka itu adalah hal yang biasa, tetapi apabila orang-orang yang memusuhi beliau memuji dan merindukan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakannya, maka ini adalah sesuatu yang luar biasa.
Apabila rasulullah Saw membalas terhadap ancaman pedang Da’tsur maka itu masih termasuk kategori wajar, tetapi apabila kemudian beliau mema’afkannya maka ini merupakan sikap luar biasa. Dan justru membuat musuh-musuh beliau menjadi kagum dan akhirnya masuk Islam.
Sikap rasululllah Saw tersebut timbul dari pribadi rasul yang mulia, peribadi yang mulia tersebut ada karena adanya keinginan atau kehendak atau Masyîaĥ. Dan Masyîaĥ yang dimiliki oleh rasulullah Saw mempunyai nilai yang luhur dan tinggi karena beliau menjadikan Al-Qur’an sebagai imam kehidupannya sehari-hari, juga dengan Al-Qur’an rasulullah Saw mampu mengatur potensi qalb dan anggota-anggotanya sehingga dapat sesuai terhadap Masyîaĥnya sebagai hamba dengan Masyîatullah.
Karena keluhuran Masyîaĥnya rasulullah Saw hidup sederhana, bahkan walaupun dosa-dosa beliau diampuni, tetapi frekuensi ibadah beliau bukannya menurun, malah semakin bertambah dan bertambah sebagai bukti bahwa beliau adalah hamba yang pandai bersyukur kepada Allah Swt. Dan itu merupakan kenikmatan puncak yang dirasakan, didambakan dan dirindukan oleh pribadi rasululullah Saw.
Dalam membumikan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah rasulullah Saw, maka pengkajian Masyîaĥ dinilai mempunyai kepentingan yang sangat urgent, karena merupakan pangkal kesadaran qalb dan titian jalan menuju qalb salim yang bernilai keimanan, ketakwaan dan keihsanan. Dan karena dari Masyîaĥ muncul sikap destruktif atau konstruktif, serta pentingnya menngkonstruk Masyîaĥ yang menguntungkan dan sesuai dengan Masyîatullah.
Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode maudhu’i (tematik) yaitu  dengan menghimpun ayat-ayat yang berbeda-beda pada surah-surah Al-Qur’an yang berkaitan dengan satu tema secara teks atau hukum dan tafsirnya sesuai dengan maksud Al-Qur’an.[1]
Dari kurang lebih 190 ayat yang berhubungan dengan Masyîaĥ maka penulis mengambil dua ayat sebagai sample utama, yaitu Q.S At-Takwir ayat 28 dan 29. dasar pengambilan sample tersebut karena kebanyakan dari ayat-ayat yang ada, Q.S at-Takwir 28-29 sering dijadikan sebagai acuan kaidah Masyîaĥ (Masyîatullah dan Masyîatul ‘ibad). Dan dapat mewakili sample-sample yang ada. Walaupun demikian penulis menampilkan 55 ayat yang diwakili oleh kata sya-a.
Setelah konsep dasar Masyîaĥ dalam Al-Qur’an berikut pendapat para pakar disebutkan, kemudian dianalisis dan penulis mencoba merefleksikan nilai-nilai paedagodis Masyîaĥ, sehingga melahirkan beberapa core yang dianggap penting menurut penulis yaitu Al-Masyîaĥ merupakan cikal bakal pendidikan, Substitusi Al-Masyîaĥ melalui warisan sosial (social education), Tingkatan Al-Masyîaĥ (general), Al-Masyîaĥ: Nilai, Potensi dan Kuantitatif, Apabila manusia kehilangan Al-Masyîaĥ, dan Al-Masyîaĥ adalah ruh.

B.  Pengertian Al-Masyîaĥ, Pembagian dan Strukturnya
1.    Pengertian Al-Masyîaĥ
Dipandang dari struktur kata, kalimat Al-Masyîaĥ adalah masdar dari kata kerja (fi’il)  شاء يشاء شيئا مشيئة   Syâ-a, yasyâ-u, masyîatan, dikatakan كل شيء بشيئة segala sesuatu itu dengan masyîaĥ, dan Masyîaĥ mempunyai makna irâdah[2] yang berarti berkehendak atau menghendaki sesuatu[3]. Ada dua kalimat yang sering dipakai yaitu:
a.    Kalimat ما شاء الله  yaitu kalimat ta’ajjub menunjukkan kekaguman, apabila diterjemahkan mempunyai makna betapa besar kehendak Allah, dan
b.    Kalimat إن شاء الله  yaitu kalimat yang diucapkan ketika mengatakan kesiapan atau berjanji, yang artinya jika Allah berkehendak.
Kedua kalimat tersebut menunjukkan masyîatullah, bahkan di dalam hadits disebutkan:
 أن يهوديا أتى النبي فقال  إنكم تنذرون وتشركون تقولون  ما شاء الله وشئت  فأمرهم النبي أن يقولوا  ما شاء الله ثم شئت
Perintah nabi agar huruf wau diganti dengan huruf tsumma karena huruf wau mempunyai pengertian bahwa masyîatullah dan masyîaĥnya berkumpul menjadi satu atau, sedangkan huruf tsumma mempunyai pengertian bahwa masyîatullah lebih terdahulu dari pada masyîaĥnya.[4]
Di dalam kitab al-ta’arif, Al-Masyîaĥ mempunyai makna perbuatan yang dikehendaki, kalimat Al-Masyîaĥ lebih umum dari pada irâdah walaupun dari segi bahasa penggunaan kedua kalimat tersebut sering bertukar tempat,  Al-Masyî ialah berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan kehendak. Sedangkan Jaudat Sa’id menyatakan bahwa kehendak sama dengan menyukai dan menginginkan sesuatu.[5]
Apabila pengertian Al-Masyîaĥ lebih umum dari pada irâdah, maka dapat dipastikan bahwa konsep Al-Masyîaĥ bersifat universal, artinya mencakup dua Al-Masyîaĥ yaitu  Masyîatullah dan Masyîatul ‘ibad. Berbeda dengan irâdah yang hanya dimiliki oleh Sang Maha Pencipta dan tidak diberikan kepada hamba-Nya. Untuk membedakan antara Al-Masyîaĥ dengan irâdah memang sangat sulit karena kadang-kadang pemakaian bertukar tempat, tetapi penulis dapat menyodorkan pandangan bahwa dalam istilah sering ditemui Masyîatullah dan Masyîatul ‘ibad. Sedangkan untuk irâdah tidak ditemukan irâdatul ‘ibad, yang ada adalah irâdatullah.
2.    Pembagian Al-Masyîaĥ
Berdasarkan At Takwir: 28 -29 maka Al-Masyîaĥ terbagi kepada dua bagian, yaitu Masyîatullah dan Masyîatul ‘ibad.
a.    Masyîatullah, yaitu kehendak Allah Swt yang bebas atas alam raya dan penghuninya, Dia pelaksana yang dapat memaksakan kehendak-Nya. Dia Maha Mengetahui hati manusia apakah mengarah kepada-Nya atau tidak.[6]
b.    Masyîatul ‘ibad, yaitu kehendak hamba dimana Allah telah menganugerahkan manusia kemampuan untuk mengetahui yang haq dan yang batil. Pengetahuan itu ditanamkan Allah pada diri manusia berupa potensi untuk mengenal-Nya serta mengenai pengutusan para rasul, penurunan Al-Qur’an dan lain-lain.[7] Atau dalam istilah yang lain bahwa Allah Swt memberikan kebebasan berbuat kepada manusia (‘af’al al-ikhtiyariah/hurriyatul af’al). Sebagaimana firman Allah Q.S Ar-Ra’d:11
... إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ...
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Tetapi kemudian kebebasan berbuat ini juga tidak lepas dari Masyîatullah sebab tidak adak seorangpun yang dapat menolak sesuatu yang dikehendaki oleh Allah Swt sebagaimana terusan ayat diatas.
وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Text Box: TaqdirBerikut ilustrasi Al-Masyîaĥ yang merupakan bagian dari taqdir secara umum.

 


 















Text Box: Syarr                                                                                           dst
3.    Struktur Al-Masyîaĥ Pada Manusia
Al-Masyîaĥ secara strukturnya bukanlah anggota tubuh organik seperti mata, telinga, hidung. Akan tetapi ia merupakan organ fungsional yang menggerakkan tubuh organik tersebut. Penggerakan tersebut berpusat pada akal yang apabila ia menangkap sebuah objek –baik atau pun buruk- serta merta akal memberikan reaksi: menolak atau menerima. Jadi Al-Masyîaĥ adalah tugas akal yang merupakan organ fungsional yang membedakan manusia dari hewan, seperti halnya indera penciuman yang dapat menangkap aroma dan menginginkannya. Demikian pula akal, ia mengetahui perbuatan-perbuatan baik dan menginginkannya.
Jadi kecenderungan hidung terhadap aroma dan akal terhadap perbuatan baik, muncul dan timbul secar alamiah. Namun kcenderungan indera seseorang bisa mengalami keruksakan seperti lidah ketika ia sakit, ia tidak mampu merasakan manis, yang ia rasakan hanya pahit. Begitu juga dengan Al-Masyîaĥ tidak menutup kemungkinan terhidar dari keruksakan, sehingga menemukan kenikmatan dalam pola pikir yang sesat atau perbuatan destruktif.[8]
Dan Al-Masyîaĥ lahir dari hasil kolaborasi antara unsur teladan dan akal pikiran manusia atau indera pembedanya-akal adalah indera yang membedakan manusia dari hewan. Apabila suri teladan bertemu dengan akal pikiran dengan segala kelengkapan syarat dan tidak ada faktor penghalang. Didalamnya, lahirlah kehendak dengan izin Allah Swt. Hal seperti ini mirip kelahiran segala sesuatu dari haril perkawinan ketika semua syarat-syaratnya lengkap dan tak ada faktor penghalang. Faktor penghalang tersebut dapat berupa kebodohan ataupun hawa nafsu.[9] Struktur Al-Masyîaĥ pada diri manusia dapat digambarkan sebagai berikut:


















C.  Konsep Al-Masyîaĥ dalam Al-Qur’an dan Pendapat Mufassir
Untuk merumuskan  Al-Masyîaĥ yang berada dalam Al-Qur’an maka penulis menemukan kata Syâ-a, yasyâ-u,  tasyâ-u yang dapat mewakili arti Al-Masyîaĥ.
1.    Kata Syâ-a diulang sebanyak +55 kali. rinciannya sebagaimana termaktub dalam tabel berikut.

No.
Surat dan Ayat
Lapadznya
1.                   
Al-Baqarah:20
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ
2.                   
Al-Baqarah:70
وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ
3.                   
Al-Baqarah:220
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ
4.                   
Al-Baqarah:253
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ
5.                   
Al-Baqarah:253
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا
6.                   
Al-Baqarah:255
وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ
7.                   
An-Nisa’:90
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ
8.                   
Al-Maidah:48
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
9.                   
Al-An’am:35
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى
10.               
Al-An’am:41
بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ
11.               
Al-An’am:107
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكُوا
12.               
Al-An’am:112
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ
13.               
Al-An’am:128
قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
14.               
Al-An’am:137
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ
15.               
Al-An’am:148
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا
16.               
Al-An’am:149
فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ
17.               
Al-A’raf:188
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
18.               
At-Taubah:28
فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ
19.               
Yunus:16
قُلْ لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلَا أَدْرَاكُمْ بِهِ
20.               
Yunus:49
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
21.               
Yunus:99
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا
22.               
Hud:33
قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ
23.               
Hud:107
خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ
24.               
Hud:108
خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ
25.               
Hud:118
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً
26.               
Yusuf:99
وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ءَامِنِينَ
27.               
An-Nahl:9
وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ
28.               
An-Nahl:35
وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ
29.               
An-Nahl:93
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
30.               
Al-Kahfi:29
فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
31.               
Al-Kahfi:39
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
32.               
Al-Kahfi:69
قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا
33.               
Al-Mu’minun:24
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَذَا
34.               
Al-Furqan:10
تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ
35.               
Al-Furqan:45
أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا
36.               
Al-Furqan:57
قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا
37.               
An-Naml:87
وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ
38.               
Al-Qashash:27
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ
39.               
Al-Ahzab:24
لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ
40.               
Ash-Shafat:102
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
41.               
Az-Zumar:68
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ
42.               
Fushshilat:14
قَالُوا لَوْ شَاءَ رَبُّنَا لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً
43.               
Asy-Syura’:8
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
44.               
Az-Zukhruf:20
وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ
45.               
Al-Fath:27
لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ءَامِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ
46.               
Al-Muzzammil:19
إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا
47.               
Al-Muddatsir:37
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ
48.               
Al-Muddatsir:55
فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ
49.               
Al-Insan:29
إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا
50.               
An-Naba’:39
فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَآبًا
51.               
‘Abasa:12
فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ
52.               
‘Abasa:22
ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ
53.               
At-Takwir:28
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ
54.               
Al-Infithar:8
فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ
55.               
Al-A’la:7
إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى

2.    Kata yasyâ-u diulang + 126 kali.
3.    Kata tasyâ-u diulang + 9 kali.
Al-Masyîaĥ termasuk tingkatan takdir yang ketiga[10] setelah, al-ilmu[11] dan al-kitabah[12]. Dan tingkatan takdir yang keempat adalah Al-Khalqu[13]. Adapun yang dimaksud dengan Al-Masyîaĥ sebagai tingkatan takdir yang ketiga adalah bahwa Kehendak Allah ini bersifat umum. Bahwa tidak ada sesuatu pun di langit maupun di bumi melainkan terjadi dengan iradat/masyiah (kehendak/keinginan) Allah Swt. Maka tidak ada dalam kekuasaan-Nya yang tidak diinginkannya selamanya. Baik yang berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh Zat Allah atau yang dilakukan oleh makhluq-Nya.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (QS. Yasin : 82)

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ ءَامَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada diantara mereka yang beriman dan ada di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.(QS. Al-Baqarah : 253)
Sementara itu Syaikh Muhammad Shalih al `Utsaimin berpendapat[14] Al-Masyiah (kehendak) mempunyai arti bahwa segala sesuatu, yang terjadi atau tidak terjadi, di langit dan di bumi, adalah dengan kehendak Allah Ta’ala. hal ini dinyatakan jelas dalam Al-Qur’an Al–Karim. Dan Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa apa yang diperbuat-Nya, serta apa yang diperbuat para hambaNya juga dengan kehendakNya. Firman Allah:
لمن شاء منكم أن يستقيم ,وما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العلمين
Artinya : “ (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki ( menempuh jalan itu ) kecuali apa bila dikehendaki Allah,Tuhan semesta alam”. ( At Takwir : 28 -29)
ولو شاء ربك ما فعلوه
Artinya: “jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya”. ( Al – An’am : 112)
ولو شاء الله ما اقتتلوا ولكن الله يفعل ما يريد
Artinya: “Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehandakinya”. (Al–Baqarah:253)
Dalam ayat – ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa apa yang diperbuat oleh manusia itu terjadi dengan kehendakNya.
Dan banyak pula ayat– ayat yang menunjukkan bahwa apa yang diperbuat Allah adalah dengan kehendak-Nya. Seperti firman Allah :
ولو شئنا لأتيناه كل نفس هداها
Artinya : “ Dan kalau kami menghendaki niscaya akan kami berikan kepada tiap – tiap jiwa petunjuk (bagi) nya”.( As Sajdah: 13)
ولو شاء ربك لجعل الناس  أمة واحدة
Artinya : “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu”. (Huud: 118)
Dan banyak lagi ayat – ayat yang menetapkan kehendak Allah dalam apa yang diperbuatNya.
Oleh karena itu, tidaklah sempurna keimanan seseorang kepada qadar (takdir) kecuali dengan mengimani bahwa kehendak Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Tak ada yang terjadi atau tidak terjadi kecuali dengan kehendakNya. Tak mungkin ada sesuatu yang terjadi di langit ataupun di bumi tanpa dengan kehendak Allah Ta’ala.
Sementara itu Qurasih Shihab menafsirkan At-Takwir: 28-29 bahwa ayat tersebut menggambarkan dua kehendak. Kehendak manusia dan kehendak Allah. Ayat ini menetapkan bahwa manusia memiliki apa yang dinamai Al-Qur’an kasb/usaha, tetapi usaha itu sama sekali tidak mengurangi kuasa dan kehendak Allah. Allah menuntut dari manusia agar menghendaki apa yang dikehendaki-Nya buat mereka. Jika kehendak itu diwujudkannya – maka Allah akan mengantarkanya patuh dan taat, tetapi jika Yang Maha Mengetahui tidak menemukan dalam hati manusia kehendak itu, maka Allah tidak memudahkan jalannya – sehingga ia tidak memperoleh kemampuan untuk melakukan kebaikan.[15] Sayyid Qutub mengomentari ayat di atas antara lain bahwa ayat ini menegaskan demikian, agar manusia tidak memahami bahwa kehendak mereka terpisah dari kehendak Allah, yang kepada-Nya kembali sesuatu. Penganugrahan kebebasan memilih, kemudahan memperoleh petunjuk, semua itu kembali kepada kehendak-Nya, yang meliputi segala sesuatu yang lalu dan kini serta datang.[16]
Al-Baqilany dalam kitabnya al-Inshaf mengatakan bahwa masyîatullah, mahabbah-Nya, Ridha-Nya, Rahmah-Nya, Karahiyah-Nya, Ghadhab-Nya, Sukhthu-Nya, Wilayah-Nya, semuanya kembali kepada Iradah-Nya. Dan Iradah merupakan sifat bagi-Nya yang tidak dimiliki oleh makhluk.[17] Keseimpulannya bahwa وأن الأشياء تكون بمشيئة الله segala sesuatu itu terjadi (atau tidak terjadi) tergantung terhadap masyiatullah.[18]
At-Takwir: 28-29
-At-Thabari mengatakan  وما تشاءون أيها الناس الاستقامة على الحقّ، إلا أن يشاء الله ذلك lalu ia menyebutkan bahwa sebab turun ayat ini adalah ketika turun ayat 28, Abu Jahal berkata istiqamah itu bagi kita, jika kita berkehendak, maka kita istiqamah, maka turunlah ayat ke 29.[19] sementara riwayat lain ditambah dengan perkataan Abu Jahal, jika kita tidak mengkhendaki istiqamah maka kita tidak akan istiqamah.[20]
- Ibnu Katsir menafsirkan ayat 28
 من أراد الهداية فعليه بهذا القرآن، فإنه منجاةٌ له وهداية، ولا هداية فيما سواه barangsiapa yang menginginkan hidayah maka baginya Al-Qur’an, karena ia adalah penyelamat dan hidayah, dan tidak ada hidayah selainnya.[21]
Dan terhadap ayat ke 29 beliau menyatakan
 ليست المشيئة موكولة إليكم، فمن شاء اهتدى ومن شاء ضل، بل ذلك كله تابع لمشيئة الله عز وجل رب العالمين
-          Sayyid Thanthawi menambahkan bahwa jumlah pada ayat 28 mempunyai syiar bahwa orang yang menjawab terhadap hidayah Al-Qur’an, maka ia mengkhendaki hidayah dan istiqamah bagi jiwanya, dan maksudnya adalah sebagai pujian atas mereka dan penghormatan dengan urusan mereka. Dan ayat 29 menjelasakan bahwa masyiatullah merupakan nafidzah (jendela).[22]
-          Al-Qathan menafsirkan ayat 28 bahwa orang yang terus menerus berada pada kesesatan maka tidak akan bermanfa’at dengan dzikr/peringatan, juga mauidzah/nasehat tidak berpengaruh padanya. Dan semua kembali kepada Allah Swt (29).[23] 

D.  Refleksi Nilai-nilai Paedagodis Al-Masyîaĥ  
1.    Al-Masyîaĥ cikal bakal pendidikan
Seorang pelajar lulus dalam ujian, atau mahasiswa menjadi sarjana (S1, S2, S3), atau seseorang menjadi guru besar, semuanya diperoleh karena adanya suatu kegiatan baik yang bersifat pendidikan, pengabdian ataupun penelitian yang kemudian dilaporkan dalam bentuk karya tulis. Kegiatan-kegiatan tersebut muncul tidak secara kebetulan atau tiba-tiba, tetapi semuanya telah disetting dengan baik atau terencana. Setingan atau rencana tersebut merupakan niat yang bersumber dari sebuah kehendak atau Al-Masyîaĥ.
Masyîatullahnya menghendaki agar manusia senantiasa membaca dengan menyebut nama Allah Swt (Q.S Al-‘Alaq, 96:1-5), karena Ia-lah yang mengajarkan al-bayan bagi manusia (Q.S Ar-Rahman, 55:4). Juga Allah Swt menunjukkan bahwa tidak sama antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu, karena yang dapat mengambil pelajaran adalah orang berilmu yaitu yang menggunakan akalnya (Q.S Az-Zumar, 39:9). Sehingga Allah meninggikan orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat (Q.S Al-Mujadilah, 58:11).
Jika Masyîatullahnya demikian, maka Masyîaĥ hamba harus  mengikutinya, mengapa? Karena manusia diciptakan oleh Allah Swt, dan Allah memuliakan manusia dengan berbagai anugerah (Q.S Al-Israa, 17:70), termasuk diantaranya adalah af’al hurriyah (kebebasan berbuat). Dan manusia yang bijak serta baik adalah mengetahui jati diri mesti kemana ia bergantung? Dan seterusnya.
Jadi jelas bahwa core paedagodis Al-Masyîaĥ adalah membaca, yang merupakan kunci ilmu pengetahuan. Dengan demikian seorang hamba yang telah menemukan Masyîatullahnya ia akan senantiasa belajar dengan dilandasi keimanan sampai ajal menjemputnya.  
  
2.    Substitusi Al-Masyîaĥ melalui warisan sosial (social education)
Seseorang dalam menggapai suatu Al-Masyîaĥ tentu tidak secara tiba-tiba muncul begitu saja, tetapi ia mempunyai proses baik yang bersifat internal ataupun ekternal. Proses tersebut ada yang di dapat dari kasb, ilham, juga ada yang di dapat dari warisan. Warisan yang dimaksud bukanlah warisan materi, tetapi warisan sosial yang merupakan kontruksi dari sebuah komunitas yang melahirkan suri teladan yang kemudian menghiasi lingkungan dan menjadi budaya yang baik (akhlak al-karimah).
Al-Masyîaĥ yang berasal dari warisan kontruksi sosial mempunyai kemungkinan (probability) untuk berubah, yaitu apabila individu atau masyarakat tersebut berkeinginan untuk mengganti atau mengubah Al-Masyîaĥ. Disadari atau tidak warisan sosial dengan pelbagai problematikanya dapat mempengaruhi Al-Masyîaĥ seseorang baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif.
Begitu juga dengan Masyîaĥ individu dan masyarakat terhadap pendidikan. Apabila pandangan mereka terhadap pendidikan positif dan meyakini bahwa pendidikan merupakan salah satu dari beberapa faktor kemajuan (taqaddum), maka muncul pada diri mereka suatu Masyîaĥ agar senantiasa belajar (formal, non formal, informal) dan menyiapkan generasi atau kader dalam berbagai macam disiplin ilmu. Tentu untuk merubah Masyîaĥ tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan sebab dibutuhkan keyakinan, potensi, kesadaran, nilai pendidikan, motivasi, usaha dan sebagainya yang mendukung terhadap realisasi Masyîaĥ tersebut, sehingga tidak hanya sekedar angan-angan atau bayangan tetapi harus nampak dalam realitas.
    
3.    Tingkatan Al-Masyîaĥ (general)
Masyîaĥ manusia secara global terbagi dua yaitu Masyîaĥ yang berhubungan dengan kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Adapun Masyîaĥ yang berhubungan dengan jasmani maka dapat dibagi sebagai berikut:
a.    Kebutuhan perut terhadap makan dan minum untuk mempertahankan kesegaran dan kekuatan jasadnya.
b.    Kebutuhan kemaluan untuk memperoleh hasrat biologisnya.
c.    Kebutuhan mata untuk melihat yang indah-indah.
d.   Kebutuhan telinga untuk mendengar suara-suara yang merdu.
e.    Kebutuhan paru terhadap oksigen untuk bernafas yang segar.
f.     Kebutuhan sel-sel terhadap vitamin, ion atau yang semacamnya
g.    Kebutuhan badan terhadap pakaian untuk melindungi tubuh dari udara dingin dan panas matahari. Dan sebagainya
Sedangkan Masyîaĥ yang berhubungan dengan rohani lebih bersifat terhadap ketenangan jiwa. Dan yang dimaksud adalah fitrah beragama, yaitu Masyîaĥ yang berorientasi terhadap ridha Allah guna menatap wajah agung Dzat yang tidak memiliki sekutu.
حدثنا محمد بن كثير أخبرنا سفيان قال حدثني يحيى بن سعيد عن محمد بن إبراهيم التيمي عن علقمة بن وقاص الليثي قال سمعت عمر بن الخطاب يقول  : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم " إنما الأعمال بالنيات وإنما لامرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه . قال الشيخ الألباني : صحيح

Dari tingkatan tersebut manusia yang berakal harus dapat menempatkan Masyîaĥ tersebut secara proporsional dan profesional dengan memisahkan Masyîaĥ hayawaniah yang hanya menuruti perintah nafsu, makan dan kawin. Manusia sejati adalah yang mampu menundukkan perintah tadi dengan kehendaknya demi mendapat ridha Allah Swt.


4.    Al-Masyîaĥ: Nilai dan Potensi 
Dalam pendidikan nilai (value), sebuah Masyîaĥ dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu Masyîaĥ destruktif dan Masyîaĥ konstruktif. Masyîaĥ Desktruktif yang dimaksud adalah suatu reaksi penolakan terhadap keinginan yang dianggap oleh jasmani tidak baik/tidak enak, atau dianggap buruk oleh akal berdasarkan potensi pengetahuan dan suri teladan yang dimilikinya. Dengan demikian Masyîaĥ Konstruktif adalah sebaliknya, ia merupakan reaksi penerimaan bahkan membangun keinginan tersebut dengan bergerak  aktif yang dianggap enak oleh jasmani atau dianggap baik oleh akal.
Berdasarkan dua nilai tersebut maka sebuah nilai Masyîaĥ berhubungan dengan unsur-unsur Masyîaĥ yang dibangunnya, tentu dengan berbagai keterbatasan hubungan manusia dengan Allah dan alam semesta. Oleh karena itu manusia harus mengetahui Masyîatullah, yaitu dengan memberdayakan semua potensi yang telah dianugerakan oleh Allah kepadanya, yang dirajai atau dipimpin oleh qalbu yang memiliki fitrah din atau beragama.
Selanjutnya potensi qalb akan memanage atau mengatur potensi-potensi lain yang telah ditundukkan oleh Allah Swt. Jika demikian maka posisi qalb menentukan pemilihan dan pemilahan terhadap nilai-nilai Masyîaĥ yang akan direalisasikan dalam bentuk bisikan hati, perkataan dan perbuatan atau aksi. Untuk menghasilkan aksi yang baik (menurut Allah), maka kunci utama adalah menjinakkan hati dengan keimanan dan kesadaran dalam berbisik (hati), berkata dan berbuat. Tuntutan kesadaran ini tidak mudah, manusia memerlukan latihan, pembiasaan dan komitmen. Sebab kadang-kadang yang sudah terbiasa juga yang asalnya disadari malah berubah menjadi tidak disadari, sehingga menghilangkan centerisasi (kekhusyuan) dalam berbisik, bekata dan berbuat (dzikir).
Jika qalb telah berfungsi dengan baik, maka sebuah Masyîaĥ dapat dinilai dan diukur secara kualitatif dan kuantitatif. Besar kecilnya nilai sebuah Masyîaĥ bergantung terhadap besar-kecilnya pengorbanan yang diberikan, baik karta maupun jiwa. Jika seseorang memiliki kesiapan untuk mengorbankan jiwa, harta dan raganya semata-mata di jalan Allah, berarti dia telah mencapai level Masyîaĥ yang tertinggi. Perhatikanlah firman Allah Swt Q.S. al-Hujurat:15
 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Juga pada Q.S. at-Taubah:111
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ
Sifat Berani, nerkorba dan dermawan merupakan fitrah Masyîaĥ, dan yang dibutuhkan tentu bukan Masyîaĥ yang bersifat biasa, akan tetapi yang mempunyai nilai luhur baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

5.    Apabila manusia kehilangan Al-Masyîaĥ
Sifat-sifat negatif yang ada pada manusia seperti pengecut, kikir, sombong, dengki, hasad, sampai kafir atau musyrik merupakan  kehilangan identitas dari sebuah Masyîaĥ (lost identity). Jika ini terjadi maka manusia tidak menjadi manusia, tetapi ia turun menjadi hewan bahkan lebih rendah dari pada hewan (derajatnya). Perhatikanlah firman Allah Q.S At-Taubah:24
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Dan Q.S Al-A’raf:179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
6.    Al-Masyîaĥ adalah ruh
Usaha membantu memanusiakan manusia merupakan salah satu tujuan hidup yang dicetuskan oleh para filosof atau para pakar pendidikan. Dilihat dari nilai dan substansinya maka Masyîaĥ dari pada tujuan tersebut masih dianggap rendah. Sebab suatu Masyîaĥ dapat dianggap tinggi apabila Masyîaĥ ‘ibadnya dapat sesuai dengan Masyîatullah yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.
Sebab Masyîatullah yang harus dijalankan oleh manusia, maka manusia harus mengetahui sifat-sifat Allah Swt yang merupakan cermin atau simbol dari Masyîaĥ-Nya yang bersifat universal. Kemudian manusia berusaha menterjemahkan simbol dari sifat-sifat Allah Swt. Dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian maka Masyîatullah harus menjadi cermin bagi Masyîatul ibad, sehingga ia akan mencapai level yang tertinggi melebihi level malaikat. (wallahu ‘a’lam)

E.  Penutup
Demikianlah kajiah Al-Masyîaĥ dalam makalah ini, mudah-mudahan bermanfa’at. Kritik konstruktif diharapkan sebagai input demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini.
















Daftar Pustaka

Muhammad Aqil bin Ali Al-Mahdaly, Al-Madkhal Ila Dirasat At-Tahliliyyah fil Qur’anil Karim:at-Tafsir at-Tahlili, (Kairo: Dar Al-Hadits, 1996),
Muhammad bin Makram bin Mandzur al-Ifriqy al-Misry, Lisanul ‘Arab, (Beirut: Dar Shadir, T.th),
Mahmud Yunus, Prof.Dr., Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1989),
Jaudat Sa’id, Al-‘amal Qudrah wa Iradah, terj.Luqman Junaidi. Bertindak menurut kehendak Allah, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002),
Qurasih Shihab,  Tafsir Al-Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002),
"http://www.syariahonline.com/new_images/konsultasi Aqidah.
 http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=423 Syaikh Muhammad Shalih al`Utsaimin
Al-Baqilany, Al-Inshaf, , (Maktabah asy-Syamilah),
I’tiqad Ahl Sunnah, Itsbat al-Masyi’ah, , (Maktabah asy-Syamilah),
Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid al-Thabari Abu Ja’far, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayyi al-Qur’an, (Beirut: Dar Fikr, 1405 H),
Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimasyqi Abu al-Fida’, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, (Beirut: Dar Fikr, 1401 H),
Sayyid Thanthawi, Al-Wasith, (Maktabah asy-Syamilah),
Al-Qathan, Tasir Al-Qathan, (Maktabah asy-Syamilah),




[1]  Muhammad Aqil bin Ali Al-Mahdaly, Al-Madkhal Ila Dirasat At-Tahliliyyah fil Qur’anil Karim:at-Tafsir at-Tahlili, (Kairo: Dar Al-Hadits, 1996), hlm.206.
[2] Muhammad bin Makram bin Mandzur al-Ifriqy al-Misry, Lisanul ‘Arab, (Beirut: Dar Shadir, T.th), Cetakan pertama, hlm.104.
[3] Mahmud Yunus, Prof.Dr., Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1989), hlm.208
[4] Lisanul Arab, Ibid.
[5] Jaudat Sa’id, Al-‘amal Qudrah wa Iradah, terj.Luqman Junaidi. Bertindak menurut kehendak Allah, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hlm.87
[6] Qurasih Shihab,  Tafsir Al-Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm.97.
[7] Ibid.
[8] Jaudat Sa’id, OP., Cit., hlm.88 dengan prubahan.
[9] Jaudat Sa’id, OP., Cit., hlm.94-95 dengan perubahan
[10] "http://www.syariahonline.com/new_images/konsultasi Aqidah.
[11] Maksudnya adalah bahwa seseorang harus meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun teperinci. Dia mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Karena segala sesuatu diketahui oleh Allah, baik yang detail maupun jelas atas setiap gerak-gerik makhluknya. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya , dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata "(QS. Al-an`am 59)
[12] Bahwa Allah mencatat semua itu dalam lauhil mahfuz, sebagaimana firman-Nya :
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab . Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.(QS. Al-Hajj : 70)
[13] Bahwa tidak sesuatu pun di langit dan di bumi melainkan Allah sebagai penciptanya, pemiliknya, pengaturnya dan menguasainya.Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya.(QS. Az-Zumar : 2)
[14] (Dinukil dari kitab القضاء والقدر Qadla' dan Qadar Allah, oleh Syaikh Muhammad Shalih al`Utsaimin). http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=423
[15] Quraish Shihab, Ibid.
[16] Ibid.
[17] Al-Baqilany, Al-Inshaf, Juz.1, bab Bismillah, hlm.6)
[18] I’tiqad Ahl Sunnah, Itsbat al-Masyi’ah, Juz.1, hlm.49
[19] Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid al-Thabari Abu Ja’far, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayyi al-Qur’an, (Beirut: Dar Fikr, 1405 H), Bab.27, Juz.24, hlm.264. Sanadnya dari al-Thabari, dari Ibn Basyar, Sofyan, dari Said bin Abd al-‘Aziz, dari Sulaiman bin Musa.
[20] Sanadnya dari al-Thabari, dari Ibn Al-Barqi, dari ‘Amr bin Abi Salamah, dar Sa’id, dari Sulaiman bin Musa.
[21] Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimasyqi Abu al-Fida’, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, (Beirut: Dar Fikr, 1401 H), Bab.15., Juz.8., hlm.340.
[22] Sayyid Thanthawi, Al-Wasith, (Maktabah asy-Syamilah), Bab 15, Juz.1., hlm.4455
[23] Al-Qathan, Tasir Al-Qathan, (Maktabah asy-Syamilah), Bab.15, Juz.3, hlm.412.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar